DETIKINDONESIA.CO.ID – Rumah-rumah dinding kayu yang beratapkan genteng dan ijuk bertebaran dalam jarak ratusan langkah jauhnya. Wajar saja desiran udara pagi ini gemericiknya dingin menusuk. Desa yang sangat rimbun dan hijau pepohonan, rasanya sebentar lagi matahari akan segera sapa hangatkan semesta bumi, kabut tipis pun mulai mendekat, lebih dekat.
Pagi ini tampak gembira dari biasanya, seorang gadis cantik jelita sendirian bermain di taman bunga depan pura dekat Istana. Pesonanya bagai mutiara yang sempurna, tidak mampu disembunyikan dengan ditutup lilitan selembar selendang sutra di tubuhnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gadis desa pecinta bunga ini adalah Dewi Kendari, nama yang aku rangkai dari saripati sansekerta terkemuka, begitu bening matanya. Rambut hitamnya yang terurai, dagu dan hidungnya yang bangir seperti baru saja dirias langsung oleh para-para Dewi kecantikan. Pesonanya menjadi buah bibir para pemuda Desa, ketika mata beningnya itu memandang, maka hati (yang normal) pasti akan lunglai bertekuk lutut dan tak berdaya, Really?
Hembusan angin membuat setangkai bunga menari dan tak sengaja menggoda betisnya sehingga ia merasa geli. Tiba-tiba raut Dewi Kendari menggelegar galak, tiga butir keringat memercik di keningnya membuat tapuk matanya terbuka seperti menantang tatapan tajam laksana panah Ksatria.
Kokohnya ribuan pengawal prajurit bertombak sekalipun tak bisa menghalangi amarahnya. Namun, amarah tak pudarkan cantiknya, dengan gemas ia memetik tangkai mawar, sekejap menciumnya dan, hmm harum sekali…, ia berbisik lembut.
Selepas senja pergi, sedang baca serius karya klasik novel fiksi yang mengisahkan seorang perempuan legenda dari negeri tanah seberang itu magisnya menggetarkan. Batiba terdengar bunyi dering kring.. kring.. kring.. telepon yang amat berharga.
“Bang sibuk? Kita boleh ngopi sejenak, berkumpul santai, kongkow-kongkow sembari mengurai kekusutan dan membincangkan agenda nasional kita. Jenuh hati karena terpaksa mengunyah ingar-bingar politik jual-beli yang tak ada jedanya, kita tunggu di Good Folks Cikini ya bang,” cakapnya singkat.
“Ow o oke cocok, tapi angpao Ketum he he,” seadanya aku jawab, tak sempat berpantun kalimat mutiara, tut-tut-tut suara di ujung telepon terburu-buru putus. Rasanya ini perintah, tanpa basa-basi dan tak perlu juga bergumam dalam hati, segera kemas-kemas laptop, notebook, potlot bawa jangan ketinggalan, tenteng ransel cuss, on the way (OTW). Bila perlu terbirit-birit, “jurtul” (juru tulis) kesigapannya memang begitu bukan?!
Seperti biasa petualangan dimulai, drama perjuangan rentan waktu jauhnya perlintasan menuju coffee shop tempat tongkrongan. Semangat menempuh kehororan macet, bedanya di tengah perjalanan kali ini hujan terlalu deras mengguyur.
Paling perlu berteduh dan mendobelkan mantel hujan meski pakaian pasti kusut, basah, dan beraroma bau dupa asap yang membius. Menyadari perpaduan topik secangkir kopi yang strategis, tak ada yang sia-sia, justru rugi bila mengeliminasi tak bisa hanya alasan kehujanan.
*Melihat Indonesia dari Perempuan*
Fragmen di atas merupakan jendela agar membaca dengan fasih setiap kisah kehidupan. Meski dua penggalan cerita berbeda tapi membuka pikiran jernih bertemu, punya pilihan tegas sekaligus menuntun hati yang tenang melihat perempuan dan keistimewaannya.
Penggalan kompositum sastra yang bisa sedikit mereda esensi kesibukan, keruwetan dan kegelisahan dunia. Menyempurnakan perasaan agar mau belajar dari orang-orang arif yang memindahkan gunung dengan memulai membawa batu-batu kecil. Mengisi pikiran dengan nalar tanpa menggerutu yang hampir selalu bernuansa menyakitkan Sebab apa gunanya menjadi seorang kritikus, atau memilih bersilat lidah yang justru berbahaya.
Faktanya memang demikian, “bahwa petualangan intelektual harus menerabas segala sekat disipliner mitos, religi dan fiksi. Menohok rezim patriarki yang sekian lama mendominasi,” kata Dewi Lestari Simangunsong (Dee) pesohor yang diimbangi ketangkasannya atau keahlian menggarap tulisan tematik fiksi ilmiah. Yang bahkan tulisannya menjadi semacam magnet kalangan remaja untuk membaca bahkan menggeluti kesastraan.
Masih dalam balutan suasana roman hari kasih-sayang, spesial valentine day, terlebih yang paling pokok, fragmen di atas mendorong mata hati untuk terus belajar menumbuhkan rasa memuliakan dan menghargai perempuan. Menghargai dan memuliakan suatu kebajikan yang dilakukannya yang hebat bahkan terkadang mustahil terbayangkan oleh kelaziman. Misalnya perempuan melakukan kebaikan pada sesama, pada tanah air, menjamin kelembutan pada dunia (kekacauan) lalu dibawanya pada ketenteraman. Kebajikan pada ruang-ruang lingkup ketidakberdayaan maupun keterbelakangan segala aspek kehidupan yang luas.
Dibalik keanggunannya, perempuan mampu menggerakkan perubahan fundamental kesadaran feminisme (kesetaraan dan kesejajaran). Selain kodratnya yang tentu saja tidak ada kehidupan baru jika bukan perempuan yang mengandung dan melahirkan. Perempuan mampu menjadi pelindung bangsa, ikut menyulam sutera kejayaan bangsa nusantara, berperanan besar terhadap pembangunan negara, menuntun keselarasan kehidupan, menyudahi berbagai ketimpangan sosial, dan mengadvokasi kebijakan pro perempuan maupun kaum marginal lainnya.
Seperti secercah kisah seorang guru honorer di Nusa Tenggara Timur, Aznet Bell, perempuan yang setiap pagi-pergi dari rumahnya ke sekolah berjalan kaki sendirian. Ia bertekad kuat mendedikasikan seluruh hidupnya bagi anak-anak agar mendapatkan pendidikan berkualitas. Dengan berpakaian sederhana seadanya menempuh 10 kilometer jalan yang penuh debu, demi ingin anak-anak muridnya membangun desa dan nantinya juga membangun negara.
Di sekolah sederhana mengajar murid-murid yang tidak membayarnya itu, tetapi ia merasa sangat bersalah jika meninggalkan mereka. Keadaan inilah yang mengikat pengabdiannya, mendorong ia untuk selalu hadir di sekolah menjelaskan setiap mata pelajaran meskipun hanya dengan papan tulis kapur yang disandarkan ke dinding kelas dari kayu. Selama 7 jam ia berdiri di kelas mengajar 9 mata pelajaran kepada puluhan muridnya. Buah pengabdian itu, tahun 2015 menerima penghargaan Kick Andy Heroes.
“Kepada perempuan-perempuan yang dengan kasih sayang membungkus semangat juang, perempuan yang telah menjadi cahaya di tengah keluarga, inspirasi di tengah masyarakat, bawa kekuatan bagi kemajuan bangsa. Ingatlah bahwa kalian tidak sendirian, di setiap langkah ada banyak perempuan lain yang akan berjalan bersama saling mendukung dan memperkuat satu sama lain,” seru menteri PPPA, Arifah Fauzi dikutip dalam sebuah tautan.
Suara perempuan tidak melulu lagi sekadar komoditas politik semata seperti selama ini, kini kemajuan perempuan memperjuangkan keadilan pengarusutamaan gender telah dibuktikan dari Undang-undang nomor 7 Tahun 2017. Pengaturan strategis mensyaratkan keterwakilan perempuan di mana partai politik diharuskan mengajukan sekurangnya 30% calon legislatif. Aturan yang menunjukkan ruang politik di Indonesia ramah terhadap perempuan, membuat perempuan dapat berkontestasi secara adil dan setara melawan politisi laki-laki.
Meski masih menerima kenyataan pahit, realitas politik pemilu tahun 2024 representasi jumlah perempuan di parlemen belum ideal dikarenakan hanya satu partai politik memenuhi keterwakilan perempuan di seluruh daerah pemilihan. Suatu bukti masih jamak terjadinya diskriminasi, dan dominasi kultural yang mengistimewakan dinasti politik kekerabatan kaum laki-laki yang berambisi menyendoki hak perempuan sulit dibendung. Problem mendasar kebijakan alternatif UU belum dipraktekkan secara konsekuen dan substantif. Sehingga membuat betapa sulitnya calon anggota legislatif perempuan menembus Senayan.
Di tiap kontestasi perempuan menghadapi beragam informasi bias kepemimpinan. Diantaranya mereka pakai idiom-idiom yang mengukuhkan oligarki “memilih Imam (pemimpin) kok wedok, jangan ya dek ya Imam (pemimpin) kudu lanang, dan/atau ada pula “wanita jangan dikasih beban apalagi jadi gubernur, berat”. “memilih imam (pemimpin) kok wedok, jangan ya dek ya pemimpin (imam) kudu lanang, dan/atau ada pula “wanita jangan dikasih beban apalagi jadi pemimpin, berat” dan seterusnya-seterusnya. Hal ini sebagai challenge, taruhan perbaikan demokrasi dan membongkar sistem “kerajaan”.
Perempuan menyadari apa arti kemerdekaan, kesetaraan, dan kebebasan yang bermartabat. Melepas diri dari terbelenggu-terbelenggu yang bermahkota raja. Kaum laki yang serakah, menggunakan idiom-idiom yang mengukuhkan ambisi menyendoki haknya, memborong bagian-bagian terkecil sekalipun, sehingga perempuan tidak dapat tumbuh kesamaan derajat, mendapatkan tempat yang sesuai, tapi terus terkurung dalam cangkang ketidakberdayaan.
Lagi pula perempuan-perempuan Indonesia masa lampau telah menunjukkan dan meletakkan dasar-dasar kepemimpinan. Rekam-jejak kepemimpinan dan kejuangan perempuan telah dikenal pada jejak sejarah, sejak era perjuangan kemerdekaan. Dalam catatan sejarah Nusantara bahwa perempuan sepanjang perairan Aceh, Banten, Sunda, Jepara, dan Ternate Maluku, memiliki semangat kebersamaan perjuangan.
Kadang muram, tapi tidak pernah membuat perempuan kehilangan harapan melihat kenyataan dan menemukan tempatnya di dalam sejarah. Perempuan wujudkan kemerdekaan Indonesia, ukiran sejarah perjuangan tersebut dibuktikan oleh perempuan-perempuan pahlawan seperti yang kita kenal mulai dari Ratu Sima. Sampai dengan pahlawan perempuan terakhir Ratu Kalinyamat pemimpin perempuan yang sangat disegani. Ratu Kalinyamat yang berhasil menyatukan para sultan mulai dari Aceh hingga sultan Jepara untuk membuat pertahanan supaya Portugis tidak bisa masuk Indonesia.
Kita mempunyai tokoh perempuan Cut Nyak Dien, sosok yang luar biasa pahlawan Aceh yang memimpin perlawanan terhadap penjajah. Seorang Perwira Belanda van der pol pun bahkan menyebutnya sebagai “keajaiban Hindia Belanda”. Kepahlawanan Cut Nyak Dien nilai yang berakar dalam masyarakat yang telah menjelma menjadi kearifan lokal itu wajib dijaga.
Tidak memilih bersembunyi di dalam rumah, menutup pintunya rapat-rapat sehingga tak seorang pun di luar bisa menemukannya. Akan tetapi perempuan-perempuan pahlawan tersebut membuktikan bahwa seorang perempuan bisa menjadi panglima perang yang begitu tangguh. Memimpin pasukan perang dan menunjukan pada dunia bahwa perempuan tidak tunduk pada penjajahan.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari DETIKIndonesia.co.id. Mari bergabung di Channel Telegram "DETIKIndonesia.co.id", caranya klik link https://t.me/detikindonesia, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Penulis | : TIM |
Editor | : BIM |
Sumber | : |
Halaman : 1 2 Selanjutnya