Oleh: Ustadz Muhammad Hani Arrifa’i, S.Ag. – Khutbah Idul Fitri 1446 H
Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut ibadah puasa dengan dua redaksi berbeda: “shiam” dan “shaum“. Kata “shiam” mengisyaratkan keistimewaan puasa bagi umat Nabi Muhammad SAW, sementara “shaum” menunjukkan bahwa umat sebelumnya juga berpuasa, tetapi tidak diberi keutamaan Ramadhan seperti umat Islam.
Kini, Ramadhan telah pergi. Janganlah kita menangisi kepergiannya, karena ia pasti akan kembali. Sebaliknya, tangisilah diri kita sendiri sebab, bisa jadi saat Ramadhan datang tahun depan, kita sudah tiada.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Takwa, Warisan Ramadhan yang Harus Dijaga
Hadirin sekalian, pesan utama dari ayat puasa dalam Al-Qur’an adalah takwa. Maka, lihatlah sejauh mana Ramadhan mengubah diri kita. Bukankah Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Tuhan yang sama di luar Ramadhan? Jangan sampai kita hanya menjadi “hamba Ramadhan” yang lalai setelahnya.
Allah berfirman, “la’allakum tattaqun” (agar kamu bertakwa). Kata “la’alla” mengandung makna harapan. Jika dinisbatkan kepada Allah, ia adalah kepastian; tetapi jika ditujukan kepada manusia, ia bergantung pada usaha. Artinya, ketakwaan tidak datang secara otomatis usai Ramadhan ia harus diupayakan dan dijaga.
Takbir: Pengingat bahwa Allah Maha Besar atas Segala Masalah
Setelah perintah menyempurnakan puasa, Allah memerintahkan, “Dan bertakbirlah!” Ibnu Asyur dalam tafsirnya menjelaskan bahwa takbir (Allahu Akbar) adalah bentuk pengakuan bahwa hanya Allah yang Maha Besar—sementara selain-Nya, betapapun tinggi jabatan, banyak harta, atau luas kekuasaannya, tetaplah kecil.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari DETIKIndonesia.co.id. Mari bergabung di Channel Telegram "DETIKIndonesia.co.id", caranya klik link https://t.me/detikindonesia, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Penulis | : Muhammad Hani Arrifa'i |
Editor | : Muhamad Fiqram |
Sumber | : |
Halaman : 1 2 Selanjutnya